Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Januari 2011

Bagaimana cara mengenali 8 kepribadian dalam mengelola keuangan

Setiap orang memiliki money archetype(budaya dalam diri saat menghadapi keuangan) yang berbeda. Perbedaan archetype ini membuat cara pandang seseorang terhadap uang menjadi berbeda pula. Termasuk bagaimana seseorang memperlakukan uang.
Tipe archetype bukan menunjukkan kepribadian Anda, namun lebih dalam mengarahkan tempat di mana anda berada. Artinya, bagaimana karakter dan kebiasaan Anda mengenai pengelolaan keuangan bisa dikenali dari sini. Dengan mengenali karakter ini, sebagai individu Anda bisa menghindari dari kebocoran keuangan. Dampak positif lainnya lebih terasa pada pasangan. Anda dan pasangan bisa lebih saling mengenali dan mampu mencari solusi keuangan yang menyeimbangkan hubungan.



Coach Yuza Aziz dan Coach Tom MC Ifle, pemilik iCOACH, memaparkan delapan macam money archetype dan dampaknya:

1. Innocent
Seseorang yang memiliki tipe ini cenderung memiliki rasa takut , tidak percaya diri, dan tidak mau memikirkan masalah keuangan. Orang-orang tipe ini memiliki rasa ketakutan yang tinggi ketika dihadapkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan keuangan. Dia merasa tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengatur segala seuatu tentang uang.

Dampaknya, jika seseorang mendapatkan uang dalam jumlah besar, akan mudah habis. Karena kebiasaan yang dimiliki orang dengan tipe ini cenderung tidak bertanggungjawab dengan uang.

"Orang yang karakter innocent-nya aktif dalam dirinya, cenderung tidak belajar tanggung jawab. Karena kebiasaannya, setiap mendapatkan uang hanya akan diserahkan kepada orang lain, misalnya kepada orangtua, untuk mengelolanya," kata Tom kepada Kompas Female, di sela workshop "Money Coaching" di Hotel Harris, Kelapa Gading Jakarta, Jumat (9/7/2010).

2. Victim
Kebanyakan orang yang memiliki tipe ini cenderung akan menyalahkan orang lain ketika mengalami suatu masalah. Mereka akan merasa khawatir jika masalah yang dihadapi akan berbalik menimpa diri mereka. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan diri, mereka akan menyalahkan orang lain sebagai penyebab terjadinya masalah tersebut. Karakter mendasarnya, orang tipe ini tidak mudah percaya kepada orang lain.

Dampaknya, uang menjadi tidak produktif. Karena tipe victim ini tidak mempercayakan uangnya untuk investasi atau menabung di bank, misalnya. Uang hanya akan disimpan dalam brankas atau bahkan di bawah bantal, karena tidak percaya lembaga keuangan.

3. Martyr
Orang-orang pada tipe ini memiliki kecenderungan berkorban buat orang lain. Meskipun demikian, setelah berkorban untuk orang lain, mereka mengharapkan suatu balasan. Sisi negatifnya, dengan banyaknya pengorbanan yang dilakukan untuk orang lain, orang tipe ini seringkali mengabaikan dirinya sendiri.

Dampaknya, tipe martyr ini tidak pernah bisa menabung. Orang lain akan sangat mengandalkan si martyr ini untuk meminjam uang. Bahayanya lagi, tipe ini tidak berani atau bahkan malas menagih piutang.

"Efek negatif lainnya, karena terlalu banyak menyuapi, orang lain yang dibantunya menjadi manja dan tidak produktif," papar Tom.

4. Fool
Tipe ini cenderung memiliki spontanitas yang tinggi, dan bertindak tanpa dipikirkan lebih matang. Mereka tidak berpikir tentang masa depan. Apa yang ada sekarang, itulah yang dilakukan.

"Fool di sini lebih kepada konyol. Karakternya malas, mengharap uang cepat atau instan," kata Tom, menyebut tipe ini sebagai spekulator yang tidak disiplin.

Dampaknya, spekulator ini berani berhutang hanya untuk kesenangan semata.

5. Tyran
Orang-orang yang memiliki tipe ini cenderung takut kehilangan uang. Biasanya, orang pada tipe ini memiliki sifat yang serakah dan tidak pernah puas. Seringkali mereka bekerja terlalu keras tanpa memperdulikan berbagai hal lain di sekelilingnya. Bahkan tidak jarang juga, orang pada tipe ini tidak memperhatikan kesehatannya.

Dampaknya, tipe ini selalu merasa tidak pernah cukup dengan kondisi keuangannya. Akhirnya cenderung memanipulasi dan terlalu mengontrol.

6. Warrior
Berbeda dengan kelima tipe di atas, tipe ini memiliki kecenderungan untuk menciptakan ide menjadi realitas. Orang-orang dengan tipe ini memiliki sifat yang bijaksana, mempunyai target yang jelas untuk masa depan, dan juga kalkulatif dalam perhitungan pemasukan dan pengeluaran. Mereka juga memiliki kepercayaan diri dan sukses dalam masalah keuangan.

Tipe ini sangat sehat, kata Tom. Orientasinya yang jelas menuju sasaran membuatnya sukses secara finansial. Tipe seperti ini biasanya ditemui pada para pengusaha sukses yang disiplin dengan keuangannya.

7. Magician
Orang yang memiliki tipe ini cenderung menjadikan masa lalu sebagai suatu pembelajaran. Mereka juga berusaha untuk mengubah suatu ide menjadi realitas walaupun terlihat tidak mungkin. Orang-orang dengan tipe ini cenderung memiliki sifat idealis, percaya diri, dan mengandalkan diri sendiri. Mereka percaya bahwa mereka memang dapat mengerjakannya.

Tipe seperti inilah yang diharapkan, kata Tom. Dia menjadi tuan atas uangnya dan tidak menjadi hamba atas uang, apalagi mendewakan uang.

8. Creator/Artist
Tipe ini biasanya mengikuti panggilan hati dalam melakukan berbagai hal. Mereka juga memiliki sifat yang idealis dan spiritual yang cukup baik. Mereka juga terbiasa untuk menciptakan sesuatu.

Kecenderungannya, tipe ini bekerja demi passion dan tidak realistis. Bahkan terlalu ekstrem, seakan tidak membutuhkan uang.

"Orang dengan karakter seperti ini mensabotase dirinya dengan penyangkalan. Membutuhkan uang tetapi seperti tidak butuh, bahkan mau bekerja meski tak dibayar," jelas Tom.

Dengan mengenali berbagai tipe ini, Anda sebagai individu apalagi bersama pasangan bisa saling menyeimbangkan diri. Dengan begitu akan lebih mudah menemukan perencanaan dan solusi keuangan.

Bagaimana cara memahami “must have” dan “nice to have”

Tidak ada satu orang pun yang menginginkan kondisi keuangannya ”lebih besar pasak daripada tiang”. Akan tetapi, tidak satu orang pun bisa memastikan bahwa kondisi keuangannya akan baik-baik saja. Bahkan, seseorang yang setiap tahunnya mengalami kenaikan pendapatan belum tentu kondisi keuangannya akan lebih baik. Kenapa? Karena jumlah kenaikan pengeluaran bisa saja lebih besar ketimbang kenaikan pendapatan. Oleh karena itu, kata kunci untuk menstabilkan kondisi keuangan, atau bahkan membuatnya jadi lebih baik, adalah pengelolaan pengeluaran atau biaya.


Biaya, hakikatnya bisa dibagi menjadi dua, yakni biaya untuk membiayai sesuatu yang bersifat must have dan biaya yang bersifat nice to have. Dalam realitasnya, banyak kalangan mengalami kesulitan untuk membedakan kedua biaya tersebut. Contohnya, untuk memenuhi kebutuhan primer saja, seperti sandang, pangan, dan papan. Sekilas, pemenuhan semua kebutuhan tersebut merupakan biaya-biaya yang bersifat must have. Padahal tidak demikian.
Sandang, misalnya. Bahwa setiap orang mesti menutupi tubuhnya dengan sandang merupakan keharusan. Akan tetapi, apa merek sandang yang akan dibeli dan berapa harganya bukanlah kebutuhan, melainkan keinginan dan itu tergolong nice to have. Ringkasnya, mengontrol biaya pengeluaran sebenarnya adalah bagaimana memahami karakteristik biaya yang bersifat must have dan yang nice to have. Bagaimana konkretnya?

Must have lebih bersifat substansi atau fungsi dari suatu barang. Misalnya kendaraan. Seseorang membutuhkan kendaraan sebagai alat transportasi. Namun, apakah kendaraan tersebut harus berharga mahal, buatan Eropa, berbentuk sedan mewah, dan lain sebagainya, itu merupakan nice to have.

Langkah berikutnya, pertama, pastikan seluruh biaya yang akan Anda keluarkan berdasarkan suatu perencanaan. Jika ingin kondisi keuangan Anda tidak masuk dalam kondisi ”lebih besar pasak daripada tiang”, maka disiplin dalam membuat perencanaan dan melaksanakannya adalah mutlak. Perencanaan pengeluaran biaya itu bisa bersifat tahunan, bulanan, dan mingguan. Buat dengan rinci kebutuhan pengeluaran Anda. Lalu pada setiap item renungkan lebih dulu, apakah rencana pengeluaran itu suatu keharusan atau sekadar keinginan.

Perencanaan
Kedua, me-review perencanaan pengeluaran sebelum diimplementasikan. Katakanlah seluruh rencana pengeluaran yang sudah dibuat diyakini berdasarkan sesuatu yang bersifat must have. Apakah persoalan selesai? Belum. Cek dulu implementasinya. Artinya, pada saat pelaksanaan, bisa jadi item yang hendak dibiayai sudah bukan kebutuhan lagi. Apa misalnya? Pada bulan Juni, Anda berencana untuk membeli sepatu baru. Ternyata, sepatu yang Anda miliki masih bagus. Pembelian sepatu baru tentu tidak lagi menjadi kebutuhan.

Ketiga, melakukan inovasi terhadap biaya yang hendak dikeluarkan. Inovasi biaya jauh lebih strategis ketimbang dua hal yang dipaparkan di atas. Bagaimana maksudnya? Contoh sederhana, Anda mengalokasikan dana untuk membiayai transportasi ke kantor, misalnya untuk membeli bensin. Ini memang kebutuhan.

Akan tetapi, pernahkah Anda berpikir bahwa biaya bensin kendaraan tidak selalu mesti ditanggung sendiri? Kok bisa? Sangat bisa. Jika Anda tinggal di kompleks, Anda sebenarnya bisa mengajak tetangga untuk bersama-sama naik kendaraan Anda ke kantor. Lalu untuk biaya bensin ditanggung bersama. Mungkin Anda merasa malu untuk melakukan hal tersebut. Namun, coba gunakan rasionalitas. Malu berarti tambahan biaya. Atau jika tidak mau menggunakan cara tersebut, bisa memilih cara sebaliknya, yakni Anda yang menumpang kendaraan tetangga Anda. Jika Anda melakukan hal ini tiga kali dalam seminggu, hitung berapa besar penghematan yang bisa dilakukan dalam setahun.

Inovasi biaya juga bisa dilakukan dalam konteks yang lain, apalagi yang sifatnya kebutuhan sekunder atau tertier, misalnya perjalanan wisata. Saat ini, hampir semua kalangan membutuhkan wisata. Akan tetapi, tidak semua kalangan mampu merencanakan dan membiayai perjalanan wisata secara baik. Misalnya, membeli tiket pesawat menjelang keberangkatan. Jelas, harga tiketnya akan sangat mahal. Padahal, tiket pesawat apalagi yang promo bisa akan sangat murah jika dibeli jauh-jauh hari.

Itu inovasi biaya dalam konteks mengatur pengeluaran. Yang lebih canggih adalah jika inovasi biaya itu bisa diterapkan dalam pengaturan seluruh aset Anda. Salah satu contohnya adalah jika Anda memiliki aset tidak produktif. Anda punya rumah lebih dari satu. Rumah yang tidak Anda tempati adalah biaya. Karena Anda mesti menanggung biaya listrik, air, pemeliharaan, dan lain sebagainya. Agar rumah tersebut tidak menjadi beban, maka mesti diproduktifkan, misalnya disewakan, sehingga ia menjadi sumber pendapatan.

Agar kondisi ”lebih besar pasak daripada tiang” bisa dihindari, maka terhadap seluruh item rencana pengeluaran yang telah dibuat bisa dilakukan telaah, apakah ada ruang untuk menerapkan inovasi di dalamnya. Yang paling sederhana adalah rencana belanja bulanan Anda, apakah frekuensi belanja secara bulanan lebih cocok dan efisien ketimbang, misalnya, belanja per dua bulanan, atau belanja melalui pesanan.

Jadi, inovasi biaya sebenarnya bukan sekadar dalam konteks barang yang akan dibeli, tetapi juga dalam hal tata cara membelinya. Contoh lain, belanja pada saat musim sale bisa dikategorikan sebagai inovasi biaya, sepanjang barang-barang yang dibeli memang merupakan kebutuhan. Jadi bukan karena faktor emosional. Selamat mencoba.

Bagaimana cara menggunakan uang untuk kontribusi social

Jika merujuk pada delapan tipe money archetype atau budaya dalam diri saat menghadapi keuangan, Anda bisa menjawab akan diapakan uang Anda. Tentu saja setiap individu bisa memiliki lebih dari satu dari delapan tipe ini. Namun bagaimana kecenderungannya, uang untuk kesenangan, merancang masa depan, atau pengorbanan seperti membantu orang lain?

Tom Martin Charles Ifle, Mentor Coach yang juga praktisi hipnoterapi, menyebutkan dari workshop Money Coaching minggu lalu, sebagian besar peserta ingin menggunakan uangnya sebagai bentuk konstribusi sosial.



Pelatihan kepada peserta yang mencapai 30 orang ini (kebanyakan pasangan dan pemilik usaha), mendapati bahwa 80 persen peserta memilih kontribusi sosial dalam penggunaan uangnya. Sebanyak 20 persen menggunakan uangnya untuk perencanaan masa depan keluarga (termasuk pendidikan anak), sedangkan sisanya sebesar 10 persen untuk pembiayaan pendidikan secara umum.

Keinginan membantu orang lain sebagai bentuk kontribusi sosial, dalam money archetype, bisa dikatakan sebagai pengorbanan atau juga sebagai bentuk realisasi ide dengan target yang jelas.

Jika sebagai pengorbanan saja, kecenderungannya orang dengan tipe ini tidak bisa menabung. Namun jika menggunakan uang untuk sosial dengan disiplin pengelolaan uang dan terencana, kebutuhan kontribusi bisa terpenuhi tanpa mengorbankan diri sendiri.

"Orang lain cenderung mengandalkan si martir ini untuk meminjam uang. Bahayanya lagi, tipe ini tidak berani atau bahkan malas menagih piutang. Efek negatif lainnya, karena terlalu banyak menyuapi, orang lain yang dibantunya menjadi manja dan tidak produktif," papar Tom kepada Kompas Female, menjelaskan tipe yang senang berkorban tanpa berpikir realistis.      

Sedangkan tipe satunya, lebih bijaksana dengan tetap bisa memberikan kontribusi sosial namun juga mempunyai target yang jelas untuk masa depan. Tipe ini sifatnya lebih kalkulatif dalam perhitungan pemasukan dan pengeluaran. Mereka juga memiliki kepercayaan diri dan sukses dalam masalah keuangan.

"Tipe ini sangat sehat dengan orientasinya yang jelas menuju sasaran membuatnya sukses secara finansial," tambah Tom.

Jadi, boleh saja berkontribusi namun tetap butuh perhitungan matang, tak sekadar menjadi martir untuk orang lain, atau bahkan untuk diri sendiri.

Bagaimana cara menghindari teman yang ingin meminjam uang

Satu-dua kali Anda mengabulkan permintaan teman yang ingin meminjam uang, dan bersyukur karena teman tersebut membayar pada waktunya. Namun karena sang teman ini tahu Anda selalu mengabulkan permintaannya, ia jadi seperti mengandalkan Anda. Setelah itu, pembayaran hutang mulai tidak lancar seperti biasanya, dan pada hutangnya yang terakhir teman ini mulai sulit dihubungi. Kasus lain, ada teman lain yang ingin mencicil hutang dengan pembayaran minimum seperti kartu kredit. Bedanya, ia tak ingin dikenakan bunga. Wah, enak betul!

Hal inilah yang menyebabkan Anda berpikir-pikir lagi jika ada teman lain yang ingin berhutang. Selain uang Anda tidak kembali, hubungan pertemanan pun jadi terganggu. Namun Anda juga tidak tega saat teman tersebut "mengemis" pengertian Anda, seperti untuk membayar uang sekolah anak, atau membayar ongkos rumah sakit. Bila hal seperti ini terjadi, apa yang harus kita lakukan?
1. Apakah dia teman dekat Anda? Bila Anda cukup mengenalnya, Anda akan tahu apakah ia berkata dengan jujur dalam menggunakan uang tersebut dan membayarnya tepat waktu. Anda mungkin akan berkata dalam hati bahwa Anda ingin menolongnya, toh Anda mempunyai tabungan yang cukup. Namun dalam banyak kasus, meminjamkan uang bukan cara terbaik untuk membantu teman. Tanyakan untuk apa uang sebanyak itu, dan tunjukkan bahwa Anda peduli. Setelah ia menjelaskan kebutuhannya, katakan bahwa Anda harus berkonsultasi dengan suami atau keluarga Anda lebih dulu. Tunggu hingga dua atau tiga hari, untuk memberi kesempatan teman Anda meminjam uang dari pihak lain, sekaligus mencari tahu tentang situasi teman ini dari teman-teman yang lain.
2. Jika ia bukan teman dekat, atau teman yang sudah bertahun-tahun tidak memberi kabar, keputusan terbaik adalah dengan mengatakan, "Sori, tapi aku punya aturan untuk tidak meminjamkan uang ke teman." Pernyataan ini menunjukkan ketegasan sikap Anda, tanpa menyakiti hati teman Anda. Meskipun Anda tidak tega, bersikaplah tegas pada diri Anda sendiri. Jika selama ini ia tak pernah berusaha dekat pada Anda, atau menghubungi Anda, artinya ia hanya mau memanfaatkan Anda. Katakan juga bahwa karena Anda sudah menikah, kebijakan mengenai uang tidak lagi hanya berasal dari Anda, tetapi juga dari suami.
3. Tanyakan pada diri Anda, apakah teman tersebut layak diberi pinjaman? Seringkali terjadi, Anda tidak mengetahui kondisi keuangan teman yang sesungguhnya, dan ternyata ia punya kebiasaan gali lubang-tutup lubang. Atau, ia meminjam uang karena ingin membeli sesuatu yang terlalu mahal untuknya. Bisa juga karena kartu kreditnya sudah masuk kategori bad debt (kredit macet) di bank, sehingga ia tak bisa lagi menggunakannya. Perhatikan juga apakah ia masih sering nongkrong di coffee shop, padahal merengek terus untuk meminjam uang. Teman seperti ini tidak layak diberi pinjaman, karena ia tidak punya tanggung jawab dengan keuangannya.
4. Apakah ia meminjam uang untuk urusan bisnis? Pelajari permintaannya, apakah ia mengundang Anda untuk menjadi investor, atau sekadar untuk membiayai ongkos produksi. Jika Anda bertindak sebagai investor, Anda berhak mendapatkan pembagian keuntungan (jumlahnya bisa Anda diskusikan). Namun hal ini membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Apakah entrepreneurship-nya dapat diandalkan? Apakah ia memiliki potensi untuk membuat bisnisnya sukses? Sedangkan bila ia hanya ingin meminjam untuk untuk membiayai ongkos produksi misalnya, Anda bisa meminjamkannya, namun dengan menetapkan bunga. Bagaimana pun juga, uang Anda dipergunakan untuk membiayai salah satu elemen bisnis. Bunga ini juga bisa menjadi "senjata" saat ia mulai mangkir. Bunga akan terus berjalan setiap bulan jika ia belum membayar.
5. Jika teman Anda memiliki alasan yang dapat diterima untuk meminjam uang (misalnya membiayai ongkos rumah sakit), periksalah kondisi keuangan Anda sendiri. Apakah Anda mampu memberikannya atau tidak. Pastikan jumlah yang mampu Anda berikan. Jika tidak mampu, Anda bisa menawarkan separuh dari yang ia minta. Dengan memiliki gambaran yang jelas mengenai kondisi keuangan Anda, Anda tidak akan mengalami risiko problem keuangan yang menyulitkan Anda sendiri nantinya.
6. Jika jumlah uang yang ingin dipinjam cukup besar, lebih baik Anda membuat kesepakatan tertulis. Banyak orang yang mendadak "amnesia" jika menyangkut urusan berhutang. Adalah kewajiban Anda untuk menagih hutang, dan bukannya segan atau risih meminta uang Anda kembali. Terutama jika hutang ini menyangkut transaksi bisnis, penting untuk mendapatkan semua dokumen legal untuk menghindari konflik di masa depan.
7. Sebelum mengatakan "Ya". Tanyakan pada diri Anda sendiri, dapatkah Anda membayangkan apa yang terjadi bila teman Anda tidak mampu membayar kembali, atau menghilang tanpa membayar? Bagaimana hal tersebut akan mempengaruhi pertemanan Anda? Apakah jika suatu saat ia kembali untuk meminjam uang, sanggupkah Anda mengatakan "Tidak" kali ini? Apakah Anda akan merelakan uang Anda jika ia tidak membayar?
8. Jika Anda berkata "Tidak". Akan lebih sulit menagih-nagih hutang seorang teman, daripada mengatakan "Tidak" sejak awal. Pastikan teman Anda memahami situasi ini. Bersikaplah konsisten dengan keputusan Anda, dan jangan tergoda untuk membantunya. Teman sejati tidak akan menentang Anda jika Anda memutuskan untuk tidak meminjamkan uang padanya.

Bagaimana cara melakukan general check up untuk keuangan anda

Kenapa Anda ke dokter? Karena Anda tidak ingin sakit, tentunya. Nah, general check-up bukan hanya dibutuhkan oleh tubuh, tetapi juga oleh kondisi keuangan. Kapan terakhir Anda melakukan check up terhadap kondisi keuangan Anda?

Hitung ulang berapa penghasilan Anda per bulan, lalu hitung juga berapa total pengeluaran per bulan. Apakah hasilnya masih surplus? Kalau ya berapa persen, surplus Anda dibandingkan dengan total penghasilan. Atau malah defisit? Berapa besar? Lalu bagaimana cara Anda menutupi defisit tersebut? Sangat mungkin Anda berutang, misalnya dengan menggunakan kartu kredit. Kalau situasi ini berlangsung terus, berarti keuangan Anda memang ”sakit” dan akan menjadi masalah besar jika terus dibiarkan. Agar tidak menjadi masalah, coba cermati dulu bagaimana kondisi kesehatan keuangan Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas.


Yang utama adalah, apakah keuangan Anda setiap bulan mengalami surplus atau defisit. Umpamakan penghasilan Anda Rp 10 juta. Lalu biaya pengeluaran, termasuk untuk membayar utang, adalah sebesar Rp 10 juta juga, atau malah lebih. Kalau faktanya seperti ini, kondisi keuangan Anda berada dalam keadaan tertekan. Kenapa? Karena untuk menutupi biaya pengeluaran saja, penghasilan Anda sudah tidak memadai.

Lalu apa solusinya? Naikkan penghasilan dan atau kurangi pengeluaran. Untuk menaikkan penghasilan memang bukan perkara mudah. Akan tetapi, untuk mengurangi pengeluaran bukan pula tidak mungkin. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi angsuran utang Anda. Nilai angsuran diturunkan sehingga Anda masih memiliki cash flowpositif. Memang, di sisi lain, utang Anda boleh jadi akan lebih lama lunasnya. Namun, paling tidak, pengeluaran Anda lebih kecil ketimbang penghasilan. Akan tetapi, ini pun dengan catatan Anda tidak membuat utang baru.

Jika realitasnya adalah sebagaimana dipaparkan di atas, apakah kondisi keuangan Anda tergolong sehat? Kondisi keuangan seperti itu masih dalam keadaan kurang sehat. Artinya, cash flow Anda tidak defisit, tetapi tidak ada dana lebih yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan keuangan Anda. Dengan kata lain, kondisi keuangan Anda akan seperti itu seterusnya. Aset juga tidak akan bertambah.

Fase sehat
Bagaimana agar kondisi keuangan bisa masuk dalam fase cukup sehat? Harus ada surplus yang bisa dialokasikan untuk mencapai suatu tujuan keuangan. Seperti contoh di atas, katakanlah penghasilan Anda sebesar Rp 10 juta. Lalu, katakanlah Anda lebih hemat sehingga pengeluaran Anda umpamakan hanya sebesar Rp 7 juta per bulan. Berarti, Anda memiliki surplus sebesar Rp 3 juta.

Apakah kondisi keuangan seperti ini sudah bisa dianggap sehat? Tunggu dulu. Cek lagi tujuan keuangan Anda. Katakanlah dalam dalam 5 tahun mendatang Anda ingin memiliki aset senilai Rp 300 juta. Berarti, setiap tahun Anda mesti mengalokasikan Rp 60 juta. Dengan kata lain, setiap bulan mesti tersedia Rp 5 juta. Padahal, surplus yang Anda miliki hanya sebesar Rp 3 juta. Konkretnya, meskipun setiap bulan keuangan Anda surplus, tetapi tujuan keuangan Anda 5 tahun mendatang tidak akan tercapai.

Lantas di mana masalahnya? Surplus Anda kurang besar. Ini bisa terjadi karena struktur pengeluaran Anda yang masih kurang optimal. Kurangi pengeluaran yang kurang perlu. Mungkin Anda mengatakan semua pengeluaran Anda adalah perlu. Oke, itu hak Anda. Akan tetapi, coba cek, dalam struktur pengeluaran Anda ada komponen biaya konsumsi dan juga komponen utang. Bagaimana strategi keuangan Anda dalam menyelesaikan utang?

Jika Anda mampu mengurangi biaya konsumsi dan pembayaran utang Anda sebesar Rp 2 juta per bulan, Anda akan memperoleh surplus sebesar Rp 3 juta + Rp 2 juta, atau sejumlah Rp 5 juta. Namun, di sisi lain, tentu saja konsumsi Anda mesti dikorbankan dan utang Anda masih akan terus berlangsung. Akan tetapi, tidak mengapa, sepanjang Anda mampu melunasinya kendati dalam waktu yang cukup panjang.

Dana darurat
Jika Anda mampu melakukan langkah di atas, kondisi keuangan Anda berada dalam kategori cukup sehat. Ya, cash flow Anda tidak defisit dan memiliki surplus untuk mencapai tujuan keuangan yang masih sederhana. Namun, keuangan Anda tetap belum aman. Kenapa? Karena Anda belum memiliki yang namanya emergency fund dan dana darurat.

Pernahkah Anda terpikir kalau tiba-tiba terjadi krisis ekonomi, lalu perusahaan tempat Anda bekerja bangkrut dan Anda mengalami PHK? Semua itu memang tidak diinginkan. Akan tetapi, sekali lagi, hal tidak terduga bisa saja terjadi. Oleh karena itu, Anda mesti berjaga-jaga dalam bentuk emergency fund. Berapa besar? Tergantung Anda. Namun, lazimnya, nilai dana yang tersimpan dalam rekening emerging fund harus sekitar 6 bulan penghasilan. Kenapa 6 bulan? Karena dalam kurun waktu 6 bulan diharapkan Anda sudah memperoleh pekerjaan baru.

Kesimpulannya, kondisi keuangan baru bisa dianggap sehat jika cash flow keseharian Anda positif, memiliki surplus dana yang dialokasikan untuk mencapai tujuan keuangan di masa mendatang, baik melalui tabungan maupun investasi lainnya, dan juga memiliki alokasi dana untuk berjaga-jaga. Namun, mesti diingat, ketiga hal di atas tidak diukur dari nilai nominal, melainkan dari perspektif tujuan keuangan pribadi.

Bagaimana cara meminjam uang kepada keluarga

Meminjam uang kepada saudara atau orangtua menjadi pilihan ketika kita memerlukan pinjaman "lunak", dalam arti cepat, "tidak perlu bunga," dan cara mengembalikan yang luwes. Pinjaman dengan cara ini tentu saja tidak akan didapat dari lembaga keuangan mana pun. Walaupun di sebelah rumah ada tetangga, tapi "gengsi keluarga" dan rasa malu karena harus membuka aib keluarga lebih berbicara.
"Paling aman dan nyaman untuk yang pertama diutangi adalah orangtua, setelah itu saudara kandung, bisa dari pihak suami maupun istri, kemudian tante atau om. Kalau kemungkinan-kemungkinan itu tak ada, baru ke tetangga atau lembaga keuangan," papar psikolog Dra Tiwin Herman, MPsi, direktur utama lembaga konsultan psikologi Psiko Utama.
Ketika harus meminjam

Jika Anda mengalami keadaan terdesak, seperti masuk rumah sakit atau harus merenovasi rumah, dan ingin meminjam uang kepada anggota keluarga lain, menurut Tiwin yang pertama harus dipikirkan adalah mau berutang kepada siapa atau saudara yang mana. Boleh dari pihak suami atau istri. Yang jelas, utang harus dilakukan kepada yang dianggap "berlebih". Setelah itu, baru perhatikan hal-hal berikut:
1. Jadikan kedekatan hubungan sebagai bahan pertimbangan.
2. Meski sesama saudara kandung, kedekatan satu sama lain belum tentu sama. Nah, kalau kebetulan yang berlebih itu adalah saudara yang kita rasa lebih dekat, tentu lebih enak memintanya. Tetapi kalau sebaliknya, perlu strategi khusus. Tentukan dulu uang yang akan dipinjam untuk keperluan apa, berapa, bagaimana, dan kapan membayar utangnya. Setelah itu barulah Anda dan suami menghadap ke saudara yang bersangkutan bersama-sama.
3. Komitmen harus dipegang meski utang ini, misalnya, akan tanpa bunga. Kembalikan uang yang dipinjam sesuai tenggat waktu yang disepakati bersama. Walaupun dengan keluarga sendiri, kita tidak bisa seenaknya meminjam uang. Akan tidak etis jika kita sampaikan hanya sambil lalu atau bahkan lewat SMS.
Berikut adalah etika meminjam uang menurut Tiwin:

* Orangtua sendiri atau mertua
Sebaiknya suami-istri menghadap bersama dan menjelaskan tujuan dan penggunaan uang yang diajukan sebagai utang. Sekalian dibicarakan bagaimana rencana pembayarannya. Perkara setelah itu mengajukan guyonan, "Nanti bayarnya gimana, nih? Bayar penuh atau separuh?" boleh saja. Tetapi yang mengajukan guyonan sebaiknya harus anak sendiri dan bukan yang berposisi sebagai menantu.

* Kakak atau adik yang sudah berumahtangga
Sebaiknya suami-istri menghadap bersama di hadapan pasangan suami-istri kakak atau adik dengan penjelasan yang sama dengan tujuan mengajukan utang. Sangat tidak disarankan untuk mengajukan guyonan sebagaimana kepada orangtua. Bahkan yang berutang harus bertanya perihal bunganya. Apakah nanti kakak atau adik yang menyatakan tidak ada bunga dan yang dibayar cukup 75 persen saja, itu bonus namanya.

Komitmen dan etika
Ketika menjadi pihak yang berutang, itu artinya Anda sudah dipercaya oleh keluarga. Maka komitmen dan etika harus dijaga. "Pinjam uang ketika benar-benar diperlukan dan jangan meminjam uang untuk barang konsumtif," tegas Tiwin.
Ketika mengembalikan uang, sebaiknya suami-istri menghadap kembali ke pemberi pinjaman. Bila dia kemudian menyatakan uang cukup ditransfer, itu soal lain.
"Bila sampai terjadi tidak tepat waktu dalam membayar, sampaikan alasannya, dan jangan diam tanpa kabar, kemudian berikan komitmen baru. Setelah ada uang, selesaikan kewajiban. Meski dengan saudara, jangan berusaha untuk 'memanfaatkan' karena bisa jadi bumerang. Di saat kita benar butuh, bisa jadi saudara kita tak mau lagi membantu," tambahnya.

Jangan keterusan
Urusan meminjam uang menjadi masalah ketika Anda terus melakukannya. Karena itu berarti ada yang salah dalam pengelolaan keuangan atau gaya hidup keluarga Anda. Di sisi lain, juga akan menjadi masalah kepada saudara yang lain karena berarti Anda menjadi "beban" dan mengganggu mereka.
"Keluarga lebih menjelaskan adanya ikatan darah, tetapi bukan berarti 'penanggung kehidupan' dan tempat berutang. Setiap orang diharapkan dapat mandiri yang merupakan salah satu ukuran kedewasaan. Konsep ketika anak yang tua, yang sudah berhasil, kemudian membantu saudaranya yang lebih muda adalah baik. Tetapi ketika sudah berkeluarga, maka pembicaraan masalah keuangan sudah tidak bisa lagi sebebas dulu karena masing-masing sudah memiliki keluarga yang harus diperhatikan," tutup Tiwin.

Jumat, 21 Januari 2011

Bagaimana cara meminjam uang dari teman

Kebutuhan tak terduga bisa datang kapan saja. Termasuk saat kondisi keuangan menipis, bahkan habis tak tersisa. Meminjam uang menjadi solusinya, termasuk dari teman Anda. Normal saja sih, meminjam uang dari teman. Namun, ada aturannya agar hubungan pertemanan tak jadi rusak karena masalah utang.

Yang perlu Anda persiapkan sebelum meminjam uang adalah menuliskan sejumlah hal seperti surat kesepakatan, surat perjanjian, timeline, tingkat bunga, serta penjelasan tertulis tentang kebutuhan personal Anda.



Setelah menyiapkan dokumen tertulis tersebut, jalankan tekniknya:

1. Jelaskan secara rinci alasan meminjam uang
Anda perlu menjelaskan mengapa Anda membutuhkan pinjaman uang dari teman. Tak sekadar mengatakan jumlah pinjaman dan untuk apa digunakan, tetapi juga jelaskan bagaimana uang tersebut akan digunakan. Apalagi jika jumlah pinjaman cukup besar. Penjelasan yang lebih rinci akan membuat teman Anda mempertimbangkan keinginannya untuk meminjamkan uang.

2. Sebutkan jumlah pinjaman secara spesifik
Teman Anda bukan bank yang memiliki dana cair dalam jumlah banyak. Bagaimanapun, kondisi keuangan pribadi lebih terbatas dibandingkan institusi keuangan. Jadi, sebutkan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan Anda dan jangan melebihkan. Berikan angka spesifik sesuai jumlah yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan darurat Anda.

3. Membayar cicilan melebihi anggaran
Jika Anda sudah bersepakat dengan teman untuk membayar cicilan dengan anggaran tertentu, upayakan untuk membayar lebih, sehingga Anda bisa menyelesaikan utang lebih cepat dari jadwal. Cara ini melegakan bagi Anda karena bisa lebih cepat terbebas dari beban utang. Selain itu, teman Anda juga bisa segera mendapatkan kembali uangnya. Menyelesaikan cicilan lebih awal lebih aman daripada menunggak utang kepada teman.

4. Negosiasikan bunga
Hubungan pertemanan menjadi tak nyaman karena urusan pinjam-meminjam uang. Bukan lantaran pinjamannya, melainkan karena jumlah bunga yang diinginkan salah satu pihak terlalu tinggi. Buatlah kesepakatan bersama dengan melakukan negosiasi. Anda juga perlu menawarkan bunga pinjaman yang kompetitif tetapi masih terjangkau oleh keuangan Anda.

5. Carilah saksi
Setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Bagi teman dekat yang sudah terbangun rasa saling percaya, tak sulit untuk mengeluarkan dana pinjaman. Namun, tak semua orang bisa mudah percaya. Jika merasa perlu, datangkan saksi saat Anda membuat surat perjanjian pinjaman uang, terutama jika jumlah pinjaman terbilang besar. Kontrak perjanjian perlu dibuat formal, dengan materai jika perlu. Saksi bisa pihak lain yang terpercaya atau bahkan pengacara. Kebutuhan saksi disesuaikan dengan jumlah pinjaman tentunya.

6. Berikan nilai tambah
Berikan pelayanan kepada teman yang meminjamkan Anda uang, seperti memberikan voucer diskon yang Anda miliki kepadanya. Atau, jika Anda memiliki bisnis atau produk tertentu, berikan diskon kepada teman Anda.

Bagaimana cara memanfaatkan selera untuk menambah uang

Persoalan keuangan kebanyakan orang muncul karena lebih memenangkan keinginan daripada kebutuhan. Artinya, keinginan memenuhi selera, seperti memiliki model tas atau sepatu yang menjadi kesukaan, memicu belanja lebih tinggi. Kebiasaan memenuhi selera di awal masa gajian lantas membuat uang tak bersisa. Padahal banyak kebutuhan yang harusnya dipenuhi lebih dini, cicilan hutang misalnya.
Dengan membuat prioritas pengeluaran (baca Trik Menghabiskan Gaji Tanpa Rasa Bersalah), persoalan keuangan yang umum terjadi ini bisa terselesaikan. Memang dibutuhkan konsistensi dan kedisplinan untuk mengubah kebiasaan.


Jika mampu mengubah kebiasaan, Anda akan bisa memenuhi semua selera yang tak pernah ada batasnya itu, tanpa mengorbankan kebutuhan wajib lain. Atau sebaliknya, Anda tak perlu mengorbankan keinginan memenuhi selera karena harus memenuhi semua kebutuhan prioritas.

Perencana keuangan, Ahmad Gozali, mengatakan selera yang dimiliki setiap orang bisa menjadi motivasi untuk meningkatkan penghasilan. Maksudnya, jadikan selera atau keinginan untuk menggali kembali potensi diri dan menambah penghasilan.

"Selera tidak ada batasnya, sedangkan salary ada batasnya. Dalam jangka pendek, selera harus dikalahkan dengan mengikuti batasan salary. Namun dalam jangka panjang, Anda bisa mengikuti selera, dengan mendorong potensi diri yang masih bisa dikembangkan untuk menambah penghasilan," jelas Gozali dalam workshop keuangan diadakan EXPERD
bertema "Salary VS Selera" di Barcode, Kemang, Jakarta, Sabtu (24/7/2010) lalu.

Gozali menyampaikan, sebenarnya Anda sudah bisa memenuhi selera dengan penghasilan yang ada saat ini, berapapun jumlahnya. Namun keinginan untuk memenuhi selera yang terus muncul tanpa batas bisa dipenuhi, asalkan Anda berupaya lebih giat meningkatkan kemampuan diri.

"Bisa jadi banyak potensi dalam diri yang belum digali. Jika sudah digali, akan banyak kesempatan terbuka bahkan untuk meningkatkan penghasilan. Tentu saja dengan memenuhi empat prioritas lebih dahulu, lalu sisanya masih banyak uang yang bisa dibelanjakan memenuhi
berbagai selera," kata Gozali kepada Kompas Female.

Persoalannya, apakah empat prioritas kebutuhan Anda sudah dipenuhi? Jika belum, kurangi belanja yang sifatnya konsumtif untuk memenuhi selera. Lalu mulailah merencanakan keuangan, jangka pendek (mengalahkan selera) dan jangka panjang (mengikuti selera).
"Rata-rata inflasi setiap tahunnya 7 - 9 persen, bahkan pernah mencapai 12 - 15 persen. Sedangkan gaji rata-rata naik hanya 5 persen saja. Kenaikan gaji tak bisa mengejar inflasi. Belum lagi kebutuhan yang terus berkembang, dengan bertambah dan berkembangnya anak misalnya," Gozali menjelaskan.

Selera, bisa menjadi motivasi lain untuk mengejar ketertinggalan penghasilan dari tingginya inflasi. Caranya, segera memulai perencanaan keuangan dengan menentukan prioritas sesuai kondisi finansial Anda.

Bagaimana cara menginovasi keuangan keluarga

Apakah Anda termasuk keluarga muda yang baru menikah, atau paling tidak memiliki satu atau dua anak yang masih kecil? Apakah istri dan suami sama-sama bekerja dan menghasilkan pendapatan bagi keluarga? Jika ya, bagaimana caranya Anda mengatur pendapatan keluarga?

Berdasarkan asa normatif dalam pengelolaan keluarga, sesungguhnya tidak ada istilah uang yang bersumber dari pendapatan suami atau istri. Ketika dua orang bersepakat membangun rumah tangga, maka penghasilan pasangan tersebut mesti disebut sebagai penghasilan keluarga.

Pada zaman modern ini, tulang punggung keluarga tidak selamanya ada di pundak suami. Banyak juga para istri yang bekerja. Selain itu, tidak sedikit para istri yang bekerja karena sudah sejak sebelum menikah memang sudah memiliki penghasilan sendiri.


Pertanyaannya kemudian, apakah kalau istri sudah sejak lama memiliki penghasilan sendiri, maka setelah menikah dan tetap bekerja, penghasilan yang diperolehnya semata-mata untuk memenuhi keperluan pribadi? Semestinya adalah tidak. Karena, pasangan suami istri pada hakikatnya memiliki tujuan keuangan yang sama, yakni terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan untuk keluarga.

Lantas bagaimana agar paradigma yang selama ini berkembang di sebagian kalangan, sebagaimana diuraikan di atas, bisa diubah? Kemuan dan kebesaran hati. Itu jawabannya. Bagaimana konkretnya?

Komitmen dan tujuan keuangan
Pertama, komitmen. Ketika Anda berumah tangga, itu berarti Anda sudah siap untuk berbagi penghasilan untuk keperluan rumah tangga Anda. Jika Anda masih menggunakan ideologi individual dalam rumah tangga Anda, itu tidak ada bedanya dengan hidup sendiri. Ujung-ujungnya akan bermuara pada masalah keuangan. Oleh karena itu, memiliki komitmen untuk berbagi merupakan fondasi dalam pengelolaan keuangan keluarga. Jika selama ini suami -istri sudah telanjur menggunakan paradigma, penghasilan merupakan hak masing-masing, maka ubahlah paradigma tersebut. Tidak ada kata terlambat.

Kedua, menentukan tujuan keuangan secara bersama. Berapa banyak aset yang ingin dimiliki? Bagaimana menyiapkan biaya anak sekolah? Dan lain sebagainya. Setiap keluarga memiliki hak untuk menentukan tujuan keuangannya masing-masing. Namun, yang menjadi kata kunci adalah bagaimana membuat prioritas dari tujuan keuangan tersebut. Siapa yang mesti mengalah dan apa yang mesti diutamakan.

Contoh sederhana adalah kebutuhan kendaraan untuk keluarga. Bisa jadi, karena ketidaksamaan pandangan akhirnya dana keluarga habis untuk membeli barang yang tidak produktif. Yang paling sering terjadi adalah soal mobil. Bisa jadi si suami ingin mobilnya berjenis sedan. Tujuannya, agar kalau ke kantor bisa lebih bergaya. Akan tetapi, sang istri ingin jenis kendaraan yang bisa memuat banyak orang karena masing ingin bepergian bersama-sama keluarga besarnya. Jika tidak ada titik temu, keluarga tersebut kemudian membeli dua mobil yang notabene tidak produktif.

Hal semacam ini bisa mengakibatkan dana untuk pembelian mobil membengkak, dan dapat mengganggu pencapaian tujuan keuangan keluarga. Oleh karena itu, dalam konteks tujuan keuangan ini, kedua pihak sejatinya mesti bersedia untuk mengalah dan mengutamakan aset yang bersifat produktif. Sementara untuk aset konsumtif sebaiknya berdasarkan fungsi dan kebutuhan dasar, bukan sekadar keinginan belaka.

Tujuan keuangan dan alokasi pendapatan
Ketiga, bagaimana cara mencapai tujuan keuangan keluarga? Setiap tujuan keuangan bisa dicapai dengan menyisihkan penghasilan ke dalam tabungan, dan setelah mencukupi, maka tabungan tersebut dipergunakan untuk memenuhi tujuan keuangan itu tadi.

Lebih modern lagi, penghasilan yang disisihkan tersebut dialokasikan tersebut disalokasikan untuk berinvestasi hingga jumlahnya terus bertambah, sampai suatu ketika jumlah tersebut bisa memenuhi tujuan keuangan keluarga, apa pun tujuan tersebut.

Akan tetapi, bagaimana jika tujuan keuangan tersebut, misalnya memiliki rumah atau apartemen ingin diperoleh saat ini? Apakah tidak bisa? Bisa, beli rumah atau apartemen dengan cara berutang. Selanjutnya, utang tersebut dicicil dan diangsur dari penghasilan bulanan suami dan istri. Intinya di sini adalah suami dan istri mesti memiliki kesepakatan, jika hendak mencapai tujuan dengan cara berutang, maka tanggung jawab ada di kedua pihak.

Konsekuensi yang lain, dari seluruh penghasilan keluarga, setiap bulannya harus disisihkan secara konsisten dana untuk mengangsur pembayaran utang. Itu berarti keinginan untuk membelanjakan dana bagi keperluan lain mesti dikurangi. Dengan kata lain, jika tidak mampu disiplin menyisihkan penghasilan untuk membayar utang kredit rumah, maka rumah itu sendiri bisa hilang dan tujuan keungan yang hendak dicapai dengan berutang akan pupus.

Keempat, mengalokasikan pendapatan suami dan istri untuk peruntukkan yang jelas, termasuk investasi dan juga pengeluaran biaya kebutuhan sehari-hari. Caranya? Penghasilan kedua pihak dimasukkan dalam sebuah rekening tabungan, dan itulah yang disebut dengan penghasilan keluarga. Lalu, dari seluruh penghasilan tersebut dipilah untuk kebutuhan sehari-hari atau konsumsi, dan juga investasi. Di sini, yang terpenting adalah keterbukaan kedua belah pihak. Setiap bulan, suami dan istri bersama-sama meninjau kondisi keuangannya. Begitu seterusnya.

Bagaimana cara mengatasi kesulitan dalam berutang

Rasanya sulit dipercaya jika ada manusia di dunia ini yang terbebas dari ikatan utang. Contohnya saja, membeli rumah yang membutuhkan dana besar sehingga memaksa kita untuk berutang. Belum lagi biaya anak sekolah hingga kuliah. Seringnya, kondisi semacam ini membuat utang sulit lepas dari tangan. Bagaimana mengatasinya?

Si utang baik
Bicara tentang utang, idealnya tak mencapai 36 persen dari penghasilan kotor Anda. Dan, patokan inilah yang biasanya dilihat oleh bank ketika akan meminjamkan dana besar, taruhlah untuk rumah.



Akan tetapi, tak bijak juga jika Anda menghindari utang karena berarti seluruh penghasilan akan tersedot untuk memenuhi kebutuhan berdana besar sehingga tak ada dana cadangan untuk keperluan darurat.

Jika begitu, apa yang harus dilakukan oleh pasangan ketika dihadapkan dengan utang?

Pertama, ketahui apa yang dimaksud dengan utang baik dan utang buruk. Definisi utang baik adalah segala sesuatu yang Anda butuhkan, tetapi belum bisa didapatkan, kecuali dengan menjual semua aset.

Contoh utang baik adalah membeli rumah. Alasannya, kecil kemungkinannya bisa melunasi pembelian rumah sekaligus. Namun, jangan terlalu ambisius dalam membeli rumah idaman, pastikan Anda telah menghitung secara finansial selama masa cicilan berlangsung. Yang jelas, semakin rendah pinjaman Anda, semakin singkat pula waktu mencicil.

Yang lainnya adalah membayar pendidikan tinggi untuk anak.

Daripada mengorbankan dana pensiun atau asuransi kesehatan, lebih baik Anda berutang (jika tak memiliki asuransi pendidikan). Sebab, pendidikan adalah investasi abadi dan suatu hari nanti akan menghasilkan lebih banyak lagi keuntungan material untuk sang buah hati.

Jenis utang baik lainnya yang bisa Anda ambil adalah investasi kendaraan bermotor, seperti mobil. Pertanyaannya adalah, jika Anda sudah mempunyai mobil, perlukah membeli mobil lain? Jawabannya ditentukan dari kondisi mobil yang dipakai. Jika memang sudah tua dan sering rusak, lebih baik jual dan investasikan dalam bentuk mobil yang lebih layak plus tidak rewel. Karena biaya perbaikan mobil memakan biaya besar, lho! Padahal, dananya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.

Awas utang buruk
Lantas, apa yang disebut dengan utang buruk? Ia adalah barang atau jasa yang sebenarnya tak diperlukan, tapi Anda menginginkannya, padahal penghasilan sama sekali tak mencukupi. Karakteristiknya adalah biasanya murni untuk konsumsi sesaat, membuat penghasilan bersih Anda menyusut, menghapus kemungkinan untuk investasi atau penghasilan yang lebih besar. Kasus terparah dari kasus ini adalah mismanajemen penggunaan kartu kredit yang biasanya berbunga tinggi.

Jika tak ingin terlilit utang buruk, yang harus dilakukan sebenarnya sederhana, yaitu mengetahui pola pengeluaran dan analisis mana yang tak penting atau tak diperlukan. Misalnya, ketika pergi berbelanja bulanan, Anda sering tergoda untuk membeli peranti elektronik atau aksesori, yang sebenarnya tak perlu dibeli. Hindarilah kebiasaan ini dengan meneguhkan niat atau buatlah daftar belanjaan yang mendetail sejak di rumah.

Alihkan juga pola pikir ketika berbelanja. Jangan berpikir, "Saya sudah bekerja keras, saya layak membeli baju seharga sekian juta atau berlibur ke Pantai X yang menghabiskan biaya berpuluh juta". Padahal nyatanya, utang kartu kredit Anda sudah membubung tinggi hingga jutaan rupiah. Bukankah lebih baik dana dialihkan untuk membayar cicilannya?

Bukan tidak boleh, lho, menggunakan kartu kredit. Tetapi, lebih baik gunakan untuk kebutuhan besar atau mendadak. Seperti ketika anggota keluarga sakit, kartu kredit bisa saja dipakai untuk membayar uang muka perawatan di rumah sakit sembari menunggu cairnya klaim asuransi kesehatan.

Jangan lupa juga untuk selalu membayar tagihan kartu kredit. Cobalah membayar lebih tinggi dari cicilan minimum, ya. Akan tetapi, lebih baik jika memprioritaskan membayar tagihan kartu kredit dengan bunga tertinggi dan tentukan batas maksimal pembayaran per bulan tanpa mengganggu kebutuhan primer lainnya.

Lalu, tagihan yang lainnya dibayar dengan cicilan minimum. Begitu tagihan dengan bunga tertinggi selesai, lanjutkan ke tagihan lain yang bunganya lebih tinggi lainnya setelah bunga yang pertama dan seterusnya.

Masih ada pilihan
Lantas bagaimana jika utang sudah merambat, apakah sudah terlambat? Yang terpenting adalah jangan panik karena tidak akan menyelesaikan masalah, malah memperumit. Tetaplah fokus pada tujuan utama, yaitu melunasinya.

Meski membutuhkan waktu lama dan harus mengorbankan beberapa kebutuhan sekunder, pada akhirnya semua untuk kebaikan Anda, kan? Jangan juga melanjutkan kebiasaan berutang, tidak perlu panik jika melihat sesuatu yang ingin Anda beli. Selalu pikirkan baik-baik, apakah Anda benar-benar memerlukannya? Jika ya, Anda bisa menabung atau jika Anda kurang andal menabung, ikuti saja program tabungan berencana di bank.

Terakhir, pada dasarnya yang harus dicamkan adalah bukan berapa banyak dana segar yang dimiliki, melainkan apakah ada cara untuk membuat uang Anda "bekerja keras" sehingga bisa menghasilkan lebih banyak uang lagi seperti melakukan investasi.

Bagaimana cara mengakhiri kebohongan financial

Masalah keuangan kerapkali menjadi sumber konflik. Hal ini kerap membuahkan kehancuran hubungan, termasuk hubungan suami istri. Penyebabnya bukan hanya karena perbedaan penghasilan (istri berpenghasilan lebih tinggi), atau gaya hidup besar pasak daripada tiang. Membohongi pasangan tentang penggunaan uang menjadi bentuk perselingkuhan yang berbahaya.


Menurut survei dari Harris Interactive, satu dari tiga orang telah ditipu pasangan mereka tentang uang. Sedangkan satu dari empat orang mengatakan bahwa pasangan mereka telah menyembunyikan informasi keuangan dari mereka. Perselingkuhan keuangan seperti inilah yang berpotensi menghancurkan hubungan, bahkan mengganggu petualangan seksual pasutri.

Dayana Yochim, pengarang The Motley Fool's Guide to Couples & Cash: How to Handle Money with Your Honeymenegaskan kebohongan finansial menjadi pertanda buruk hubungan pasutri.

"Persoalannya bukan hanya karena nilai uangnya. Problem ini bicara soal kekuasaan, otonomi, kekhawatiran, harapan, nilai personal, dan kepercayaan," kata Yochim.

Kebohongan keuangan seperti apapun tak bisa dilihat sepele. Untuk skala besar contohnya utang kartu kredit yang membludak. Atau membohongi pasangan, bahwa Anda membeli barang yang disukai karena diskon 75 persen, padahal Anda membelinya dengan harga penuh. Persoalan kebohongan keuangan semakin kompleks jika pada akhirnya Anda tak mampu menyelesaikannya sendiri. Apalagi jika sudah menyangkut pihak lain yang dirugikan. Pasangan pun mau tidak mau menjadi terlibat dan turut bertanggung jawab, jika tak ingin terlibat masalah keuangan yang lebih besar lagi. Di sinilah konflik uang akhirnya merusak hubungan.

Agar tak terjebak dalam situasi tak menyenangkan ini, sebaiknya mulailah jujur dan terbuka, caranya:

"Jika saat ini Anda sedang melakukan pembohongan keuangan, segeralah mengaku. Katakan terus terang dan dengan penuh sesal. Mengertilah keadaan pasangan yang merasa dikhianati karenanya," kata psikoterapis Bonnie Eaker Weil, PhD, yang juga penulis buku Financial Infidelity: Seven Steps to Conquering the #1 Relationship Wrecker.

Kemandirian finansial perlu dibahas sejak awal. Utarakan kepada pasangan bahwa Anda perlu memiliki kehidupan finansial mandiri. Pisahkan rekening tabungan khusus untuk Anda. Anda pun bisa melakukan perencanaan keuangan untuk diri sendiri. Misalnya untuk dana pensiun, investasi, atau yang lainnya, dengan penghasilan Anda.

"Anda harus punya uang sendiri dan kemandirian finansial. Kondisi finansial perempuan cenderung rentan apalagi jika ditinggalkan suami, karena meninggal atau perceraian. Anda perlu jujur dan terbuka kepada pasangan bahwa Anda memerlukan uang di rekening pribadi. Namun pastikan Anda tetap berkontribusi atas keuangan bersama dan tetap bertanggung jawab untuk mengisi rekening bersama," jelas Weil.

Buat kesepakatan finansial bersama pasangan. Aturan seputar uang perlu dirancang untuk menyelamatkan finansial individual atau keluarga. Anda dan pasangan perlu menyepakati batas pengeluaran. Misalnya, Anda dan pasangan dilarang secara sepihak menghabiskan uang dengan nilai tertentu dari rekening bersama. Prinsipnya, selalu diskusikan atau konsultasikan kebutuhan dan pengeluaran bersama pasangan. Buat juga kesepakatan untuk memberikan waktu memanjakan diri sendiri seminggu sekali. Berikan anggaran untuk me time dengan kesepakatan bersama.

Catat semua hal seputar keuangan. Pastikan untuk mencatat semua pemasukan dan pengeluaran personal maupun bersama pasangan. Cara ini perlu dilakukan untuk menghindari perselisihan. Bukan maksudnya tak percaya kepada pasangan. Namun dengan catatan keuangan yang tertata rapi, Anda dan pasangan pun bisa mengontrol pengeluaran demi kondisi finansial yang lebih ajeg.

Bagaimana cara melunasi utang sesuai zodiac

Banyak orang yang terjerat dalam belitan utang kartu kredit dan sulit melepaskan diri. Sumber dari segala masalah ini adalah kurangnya disiplin dalam mengelola keuangan dan keinginan untuk memiliki banyak hal yang sebenarnya tidak mampu Anda miliki. Anda berniat menyelesaikan utang ini, tetapi sudah kehabisan akal mengenai bagaimana cara menyisihkan uang Anda.
Agar Anda lebih mudah melunasi utang atau membuat kemajuan dalam hal manajemen keuangan, coba cari caranya sesuai dengan karakter bintang Anda.


Aries
Anda memiliki energi lebih besar daripada zodiak lainnya. Tetapi, jangan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang positif dulu. Karena maknanya bisa berarti, Anda mampu menghabiskan uang lebih cepat dan lebih bersemangat. Nah, agar Anda tidak tekor karena senang berbelanja, cobalah mencari pekerjaan sampingan. Dengan demikian, Anda akan mendapatkan tambahan penghasilan yang dapat membantu melunasi utang lebih cepat.

Taurus
Orang Taurus dikenal konsumtif dan menyukai kemewahan. Repotnya, Anda tidak disiplin dalam mengelola keuangan. Anda cenderung hanya menyetor pembayaran minimum dari tagihan kartu kredit Anda. Jika pengeluaran Anda saat ini lebih besar daripada pendapatan, sebaiknya Anda mulai mengurangi jumlah kartu kredit. Sementara itu, jadikan barang-barang branded milik Anda sebagai investasi sehingga Anda bisa menjualnya dengan harga lebih mahal ketika Anda membutuhkan uang.
Gemini
Kemampuan mengelola keuangan si Gemini sangat kurang. Utang-utangnya bisa terjadi karena ia tidak membayarnya tepat waktu, bahkan sering kali lupa membayarnya. Ada baiknya Anda menyewa konsultan keuangan karena Anda tampaknya butuh bantuan untuk menyelesaikan masalah keuangan. Jangan takut membayar perencana keuangan untuk membantu Anda mengelola keuangan selama Anda masih mampu.

Cancer
Anda mungkin cerdas dalam masalah keuangan dan bisnis, tetapi juga juga seorang emotional spender. Anda selalu bertindak impulsif saat berbelanja. Karena itu, untuk menghindarkan Anda dari utang adalah dengan mencari cara lain untuk memanjakan diri, selain berbelanja. Apa kira-kira yang bisa menghibur Anda ketika Anda sedang stres atau sedih, selain pakaian atau tas bermerek.
Leo
Orang Leo pada dasarnya kreatif dan kebanyakan memiliki hobi menghibur diri sendiri. Coba manfaatkan kesenangan Anda untuk menghasilkan uang. Entah itu menjadikan hobi Anda menyanyi sebagai sumber penghasilan baru saatweekend, merancang busana, atau memasak. Apa saja sebenarnya bisa dijadikan uang asal Anda bisa fokus melakukannya. Cari partner agar Anda bisa mewujudkan rencana ini dengan lebih bersemangat.

Virgo
Kebalikan dari si Taurus, Virgo tergolong sangat disiplin. Namun, Virgo juga sering menyerah ketika ada sebuah rencana yang tampak terlalu berlebihan atau di luar jangkauan. Jadi, sebaiknya Anda membagi-bagi tujuan finansial Anda dalam langkah-langkah kecil. Untuk minggu pertama, misalnya, coba kurangi jadwal makan di luar untuk dua malam. Setelah mampu melakukannya, ciptakan tujuan baru untuk minggu kedua. Berkomitmenlah pada kebiasaan ini, maka utang Anda akan segera lunas.

Libra
Anda menyukai hal-hal yang bisa memanjakan diri, entah itu tampil cantik atau makan di luar bersama teman-teman. Tetapi, Anda tidak boleh menciptakan konsep besar pasak daripada tiang untuk diri Anda. Coba ciptakan sesuatu yang mampu menghemat pengeluaran Anda. Misalnya, alihkan acara makan-makan di rumah menjadi semacam potluck party, di mana setiap tamu wajib menyumbang makanan.

Scorpio
Anda tergolong tertutup dan tidak akan pernah terbuka pada siapa pun mengenai utang Anda, kecuali pada seseorang yang bisa membantu Anda mengingatkan mengapa Anda bertindak ceroboh dalam keuangan. Anda bisa mencari teman atau keluarga yang Anda respek untuk membimbing agar pengeluaran Anda tidak melebihi pendapatan. Bila Anda sudah menemukan kunci menata pengeluaran ini, Anda pasti akan segera terbebas dari utang.

Sagitarius
Optimistis adalah sifat dasar Sagitarius sehingga Anda menghadapi telepon dari para debt collector yang menagih utang kartu kredit itu tidak menjadi masalah besar. Anda menganggap "teror" semacam itu akan mereda dengan sendirinya, apalagi jika Anda lalu memilih berlibur untuk menghindar (dan menambah jumlah utang Anda). Cara terbaik menangani utang adalah membuat inventarisasi yang realistis mengenai bagaimana dan di mana Anda menggunakan uang. Jika Anda mampu mengubah mindset dari "punya utang itu enggak masalah" menjadi "saya bisa, dan harus menyelesaikan utang!", Anda pasti berhasil melepaskan diri dari jeratan utang.

Capricornus
Sebenarnya Anda berkomitmen untuk membayar utang, tetapi tampaknya Anda membutuhkan kenaikan gaji lebih dulu. Karena semakin banyak uang yang Anda miliki, semakin mungkin Anda mampu melunasi utang. Jika Anda tidak berhasil mendapatkan kenaikan gaji seperti yang Anda inginkan, mungkin Anda perlu mempertimbangkan kembali posisi Anda sekarang. Apakah Anda sudah bekerja cukup keras untuk menghasilkan uang yang Anda butuhkan? Apakah mencari side job bisa memberikan peluang penghasilan yang lebih baik? Biarkan ambisi Anda bekerja saat ini.
Aquarius
Berpikirlah secara out of the box karena itulah kelebihan Anda. Jalan apa yang belum Anda tempuh ketika menyangkut manajemen keuangan? Apakah Anda sudah berusaha mengurangi acara ngopi bersama teman-teman sepulang kantor? Sudah, tetapi tak ada hasilnya? Mungkin Anda perlu melakukan langkah yang lebih cermat. Hangout saja pada akhir pekan, atau, gunting kartu kredit Anda sampai Anda berhasil menyelesaikan utang.

Pisces
Manajemen keuangan tampaknya bukan kekuatan seorang Pisces. Ketika tagihan kartu kredit datang, Anda biasanya menunda untuk membukanya dan menyimpannya saja di kotak penyimpanan. Tidak akan mudah mengubah kebiasaan ini. Minta pasangan atau keluarga Anda mengatur kapan Anda harus membayar tagihan dan mengendalikan kebiasaan belanja Anda. Mintalah bantuan untuk menciptakan penetapan budget, dan sekali lagi, minta mereka mengatur agar Anda berkomitmen untuk menepatinya.

Rabu, 19 Januari 2011

Bagaimana cara meningkatkan saldo tabungan dengan perangan aspek pengeluaran

Sudah merupakan hukum alam, setiap orang ingin memiliki uang banyak walau bagi sebagian kalangan tidak tahu uang tersebut mau diapakan. Namun, lepas dari itu, secara umum, orang ingin memiliki nilai tabungan yang besar. Setidaknya untuk berjaga-jaga atau menyiapkan dana untuk hari tua. Masalahnya, tidak setiap orang memiliki tabungan besar. Paling tidak, jika dibandingkan dengan penghasilan.

Singkat kata, dalam keseharian, sebagian penghasilan habis tanpa bekas. Yang mengalir ke tabungan sangat sedikit. Kenapa bisa demikian? Karena tidak ada kesungguhan untuk menyisihkan penghasilan ke dalam tabungan. Dan akhirnya, ketika dibutuhkan dana dalam jumlah besar, nilai tabungan tidak memadai.



Menabung, hakikatnya sama seperti melakukan kegiatan lain. Sama seperti keinginan untuk membeli barang-barang bermerek. Masalahnya bukan pada kemampuan, melainkan kemauan. Kalau Anda mampu mengontrol diri untuk tidak menghambur-hamburkan uang, itu sama hakikatnya dengan mengontrol diri untuk menabung lebih banyak. Sebab, pada dasarnya penurunan jumlah pengeluaran bisa berbanding lurus dengan peningkatan jumlah tabungan. Oleh karena itu, untuk memulai meningkatkan tabungan mesti diawali dengan merancang aspek pengeluaran.

Penghasilan vs pengeluaran
Pertama, hitung berapa penghasilan per bulan. Lalu hitung rencana pengeluaran per bulan. Untuk mudahnya, tulis saja rencana pengeluaran tersebut, apa pun yang tebersit di benak Anda. Lalu perkirakan berapa jumlahnya. Kemudian, jumlah rencana pengeluaran itu dibandingkan dengan penghasilan.

Bagaimana hasilnya? Masih ada dana tersisa? Berapa persen? Apakah 10 persen, 20 persen, 30 persen? Kalau 10 persen atau 20 persen, berarti ada masalah dalam pengeluaran Anda. Apalagi kalau angkanya defisit. Ini benar-benar masalah.

Bagaimana jika 30 persen? Berarti, penghasilan Anda memang cukup besar. Sebab, tanpa melakukan seleksi terhadap aspek pengeluaran, Anda hanya menghabiskan 70 persen dari penghasilan. Namun, mesti diingat, jika yang sisa 30 persen tersebut dialokasikan untuk tabungan, belum tentu angkanya akan cukup untuk menutup kebutuhan finansial Anda di masa datang.

Kenapa? Karena untuk mendapatkan sisa dana 30 persen, Anda tidak membutuhkan upaya mengurangi pengeluaran. Jadi, semuanya berjalan biasa saja. Padahal, suatu ketika mungkin Anda mengalami masalah keuangan, dalam arti penghasilan menurun, sementara di sisi lain, perilaku pengeluaran Anda masih sama. Jika ini terjadi, Anda tidak punya kemampuan lagi untuk menyisihkan 30 persen penghasilan ke dalam tabungan.

Konkretnya, sangat mungkin dana yang bisa disisihkan untuk tabungan akan semakin menurun. Oleh karena itu, dalam kaitan jumlah dana yang dialokasikan untuk tabungan, Anda mesti mematok persentase dan juga angka nominal. Misalnya, saat ini penghasilan Anda adalah Rp 10 juta. Adapun 30 persen dari Rp 10 juta adalah Rp 3 juta. Maka, sejak Anda memiliki komitmen menabung secara rutin, maka harus memenuhi kedua kriteria tersebut, yakni 30 persen penghasilan atau minimal Rp 3 juta per bulan, tergantung mana yang lebih tinggi.

Kuncinya adalah kemauan
Kedua, menyeleksi aspek pengeluaran.

Dalam realitasnya, masalah pengeluaran tidak pernah berhenti. Setiap orang merasa dana untuk membiayai pengeluaran tidak pernah cukup.

Bahasa terangnya begini. Jumlah dana yang menjadi penghasilan, hakikatnya tidak berubah kecuali naik gaji atau memperoleh penghasilan lain. Pendeknya, sulit dikontrol, karena yang menaikkan gaji, upah, honor, dan penghasilan Anda adalah pihak lain. Sementara, nafsu untuk membelanjakan uang sebenarnya ada dalam kontrol Anda.

Keinginan untuk belanja atau tidak belanja, bukan bergantung apakah ada obral besar atau tidak, tetapi pada kebutuhan atau keinginan Anda. Konkretnya, untuk menambah alokasi dana untuk menabung, akan sangat efektif jika Anda mampu mengurangi pengeluaran, dengan membatasi keinginan dan hanya memenuhi aspek kebutuhan. Dus, lakukan seleksi ulang seluruh rencana pengeluaran dan coret yang sifatnya sekadar keinginan.

Ketiga, menyisihkan dana tersisa dari pengeluaran untuk ditabung. Dari mana diperoleh dana tersisa? Jangan bohong. Kalau pergi ke restoran, atau membeli suatu barang, pasti ada kembaliannya. Misalnya, dalam rencana pengeluaran, dimasukkan rencana pembelian sepotong kemeja dengan harga Rp 300.000. Ternyata ketika dibeli, harganya hanya Rp 250.000. Hal yang sama bisa terjadi pada kegiatan belanja yang lain.

Pendeknya, dari transaksi yang dilakukan, pasti ada sisa dana. Pertanyaannya, ke mana digunakan sisa dana tersebut? Pasti untuk konsumsi remeh-temeh lainnya. Padahal, jika nilainya dijumlahkan, boleh jadi akan cukup besar. Bayangkan jika jumlah yang cukup besar itu dijadikan tabungan, maka nilai tabungan pasti akan semakin meningkat.

Selain ketiga hal di atas, upaya meningkatkan tabungan tentu saja bisa dilakukan dengan berbagai cara. Namun, kata kuncinya adalah soal kemauan. Bukan soal berapa besar dana yang bisa disisihkan untuk ditabung. Jika kemauan tersebut dipelihara dan dilaksanakan secara konsisten, maka akan terbentuk budaya menabung. Tentu saja ini akan memberi manfaat bagi Anda sendiri, tatkala suatu ketika membutuhkan dana untuk membiayai kebutuhan, termasuk di hari tua.

Bagaimana cara menjadikan reksadana sebagai sumber penghidupan

Reksa dana merupakan wadah pengumpulan dana yang diinvestasikan kepada berbagai instrumen investasi -lebih dikenal dengan efek dan dikelola oleh manajer investasi. Artinya, reksa dana mempunyai tiga karakteristik yang tertulis.

Pertama, adanya investor ritel yang lebih dikenal dengan perorangan dan investor wholesale (investor institusi). Kedua, dana yang dikumpulkan diinvestasikan kepada efek. Investasi pada efek menyatakan adanya hasil yang diperoleh setelah melewati suatu periode. Ketiga, adanya manajer investasi yang mengelola efek tersebut. Adanya manajer investasi yang mengelola reksa dana diharapkan risikonya dapat diminimalisasi sesuai dengan kepentingan investor dan reksa dana yang bersangkutan.



Reksa dana juga mempunyai dua karakteristik yang tidak tertulis atau tersirat. Pertama, bahwa reksa dana merupakan investasi yang memiliki periode jangka menengah dan jangka panjang. Pengelolaan investasi oleh manajer investasi membuat reksa dana harus memiliki tingkat pengembalian lebih tinggi daripada instrumen efek lain sehingga portofolio harus dibuat memiliki periode panjang. Efek berperiode panjang akan mempunyai hasil yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan efek yang lebih pendek.

Kedua, reksa dana merupakan instrumen investasi yang memiliki risiko. Reksa dana memiliki risiko karena instrumen investasi yang dimilikinya mempunyai periode jangka menengah dan panjang yang melekat ketidakpastian. Manajer investasi yang mengelolanya juga bisa menimbulkan risiko. Risiko yang ditimbulkan oleh manajer investasi adalah risiko akibat moral hazard (mempunyai intensi untuk tidak mengembalikan dana tersebut). Juga oleh kesalahan pengelolaan karena kurang pengalaman serta salah melihat situasi pada masa mendatang.

Investor telah menyadari bahwa risiko yang diperoleh investor akan lebih rendah dibandingkan dengan risiko melakukan investasi langsung (bermain saham di bursa). Manajer investasi akan selalu meminimalisasi risiko investasi yang dilakukannya melalui investasi bermacam-macam instrumen investasi.

Sumber penghidupan
Sehubungan dengan tujuan investor membuat investasi pada reksa dana sebagai sumber kehidupan, maka hasil yang diperoleh dari reksa dana harus bisa memberikan tingkat pengembalian yang memenuhi dua prinsip. Pertama, prinsip adanya tingkat pengembalian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang diperoleh setiap bulannya melalui pencairan reksa dana.

Prinsip kedua, tingkat pengembalian reksa dana juga harus bisa membuat dana yang dimiliki bisa bertumbuh sehingga hasil berikutnya juga bertumbuh. Investor pasti menghadapi inflasi yang mengakibatkan daya beli menurun sehingga diperlukan pertumbuhan nilai investasi awal yang meningkatkan hasil yang diperoleh. Apabila kedua prinsip ini dapat dipenuhi, maka investor bisa melakukan investasi pada reksa dana sebagai sumber kehidupan sehari-hari.

Konsep pemahaman prinsip tingkat pengembalian yang diberikan reksa dana memberikan konsep pemikiran bahwa investor mempunyai dua periode, yaitu periode jangka panjang dan periode jangka pendek. Periode jangka panjang dilakukan untuk memenuhi keinginan atau tujuan investasi yang bisa membuat adanya dana tersebut sepanjang masa.

Periode jangka pendek membuat pemahaman investor akan dibutuhkannya dana untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Sehingga, investor harus mencari reksa dana yang bisa memenuhi kebutuhan investor. Investor harus bisa melakukan pencairan reksa dana dalam jangka pendek untuk mendapatkan tunai dalam rangka memenuhi kehidupan sehari-hari.

Jangka pendek
Tindakan selanjutnya, investor bisa mengubah pandangan dengan membuat reksa dana sebagai investasi jangka pendek. Investor harus melakukan penjualan dan beli reksa dana sehingga memenuhi tujuan investor. Transaksi tersebut persis seperti bermain saham yang menjual dan membeli saham setiap saat agar tidak kehilangan momentum yang ada.

Investor harus memilih reksa dana yang sesuai dengan tujuan investor. Pemilihan reksa dana harus dimulai dengan melihat secara keseluruhan untuk mendapatkan gambaran reksa dana yang bisa memenuhi tujuan investor. Informasi gambaran reksa dana dapat diperoleh investor dari Bapepam ataupun dari media massa, atau juga website yang memberikan informasi reksa dana.

Informasi tersebut dapat diperoleh secara gratis ataupun dengan biaya yang sesuai dengan investasi investor. Website yang dapat digunakan dan tidak bayar adalah www.finansialbisnis.com. Manajer investasi yang menjadi pengelola reksa dana harus bisa dikenal investor agar dana yang diinvestasikan investor bisa lebih aman.

Dalam melakukan investasi, investor juga harus memerhatikan size yang lebih dikenal dengan Total NAB Reksa Dana yang bersangkutan. Reksa dana yang memiliki size yang kecil akan memberikan tingkat pengembalian yang tinggi dibandingkan dengan reksa dana dengan size lebih besar. Artinya, tingkat pengembalian reksa dana mempunyai korelasi negatif dengan size reksa dana.

Pada sisi lain, investor harus bisa melakukan prediksi situasi di masa mendatang terutama berkaitan dengan investasi reksa dana. Investor harus melakukan pencairan lebih cepat karena dana tunai yang diperoleh investor mundur dua hari dibandingkan dengan investasi deposito yang tunai langsung pada hari itu juga (sesuai jatuh tempo). Investor harus menjual mendekati top value reksa dana dan membeli kembali apabila dirasakan atau diprediksi sudah pada harga rendah.

Bagaimana cara memilih perencana keuangan

Memiliki dan menjalankan perencanaan keuangan menjadi langkah preventif krisis finansial personal. Perencanaan keuangan dibutuhkan untuk membantu Anda mengatur, mengelola, dan mendisiplinkan diri.

Merencanakan keuangan bisa dipelajari. Anda bisa mengikuti berbagai kelas pelatihan perencanaan keuangan lalu mengaplikasikannya sendiri. Namun, jika masih merasa buta dan tak percaya diri menjalankannya mandiri, gunakan saja jasa perencana keuangan.



Tetapi, jangan asal memilih perencana keuangan. Jika saat ini Anda sudah menyusun daftar kandidat perencana keuangan, seleksi kembali lebih detil. Pastikan apakah mereka memiliki sertifikasi yang memenuhi standar. Sertifikasi bukan sekadar bukti profesionalitasnya. Dengan adanya sertifikasi, Anda bisa menakar sejauhmana level pengalaman dan keahlian perencana keuangan tersebut.

Setelah mengecek sertifikasinya, ajukan juga pertanyaan di bawah ini. Tujuannya untuk lebih mengenal perencana keuangan lebih seksama sehingga Anda tak salah pilih saat sudah memulai menjalin kerjasama dengannya.

1. Tanyakan jam terbang. Berapa lama sudah menjadi financial planner? berapa jumlah kliennya? Pertanyaan ini menunjukkan jam terbang perencana keuangan. Semakin banyak yang menggunakan jasanya, artinya ia terpercaya.

2. Tanyakan pengalaman secara rinci. Seperti apa pengalamannya? Apa saja spesifikasinya? Dengan mendapatkan informasi ini Anda bisa tahu lebih detil bagaimana perencana keuangan tersebut bisa membantu problem keuangan Anda. Setiap orang memiliki masalah yang unik dan khas, dengan memiliki perencana keuangan yang berpengalaman dengan berbagai persoalan finansial, hingga masalah spesifik, Anda lebih terbantu.

3. Tanyakan sistem pembayaran. Bagaimana sistem pembayarannya? Tentu saja hal ini mesti ditanyakan. Minta penjelasan apakah perencana keuangan menggunakan sistem fee atau komisi. Dengan begitu, Anda bisa memilih yang paling memudahkan atau sesuai dengan kemampuan Anda.

4. Tanyakan afiliasinya. Apakah perencana keuangan terafiliasi dengan bank atau institusi keuangan lainnya? Lantas apakah ia akan juga menawarkan produk tersebut? Memiliki perencana keuangan yang independen akan lebih obyektif, karena ia akan fokus pada masalah finansial Anda dan bukan sambil berjualan produknya.

5. Tanyakan durasi pertemuan. Seperti apa mekanisme pertemuannya? Apakah hanya konsultasi satu kali saja atau bertahap? Adanya kesepakatan yang jelas mengenai mekanisme pertemuan bisa membantu Anda mendapatkan perencanaan keuangan yang optimal.

6. Tanyakan cara kerjanya. Apakah perencana keuangan tersebut juga bisa dihubungi via ponsel atau hanya dengan tatap muka? Kesepakatan jelas mengenai cara kerja perencana keuangan juga penting. Agar Anda lebih nyaman berkonsultasi dengannya.

7. Tanyakan prinsip kerjanya. Apakah perencana keuangan akan menawarkan pilihan investasi atau hanya merekomendasikan saja? Pilihan kembali kepada karakter pribadi Anda dan buatlah kesepakatan dengan perencana keuangan. Jika Anda merasa perlu diarahkan, minta perencana keuangan untuk memberikan pilihan investasi sesuai analisanya. Namun, tetap cari tahu juga seperti apa karakter perencana keuangan terkait prinsip kerjanya. Pilih yang paling nyaman buat Anda.

8. Tanyakan tim kerjanya. Apakah Anda akan bertemu langsung dengannya secara personal atau didampingi tim perencana keuangan? Jangan sampai Anda kecewa, jika ternyata tak bisa bertemu dan berkonsultasi langsung dengan perencana keuangan. Mintalah penjelasanya mengenai mekanisme konsultasi, apakah selalu dengan pertemuan personal ataukah ada delegasi dengan tim perencana keuangan nantinya.

Bagaimana cara merencanakan kondisi keuangan di masa depan

Sudah menjadi satu fenomena yang umum bahwa banyak di antara rekan-rekan kita, ataupun orang-orang di sekitar kita yang sering mengeluh bahwa kondisi keuangannya morat-marit.

Jumlah utangnya menggunung dan melebihi pendapatannya, bahkan melebihi jumlah asset yang dimilikinya. Dalam kondisi seperti ini yang biasanya menjadi kambing hitam adalah kecilnya jumlah pendapatan yang dimilikinya.

Padahal akar permasalahan yang sebenarnya bukan berada pada sisi pendapatan saja, tetapi kegagalan mengelola keuangan. Banyak di antara kita yang tidak memiliki perencanaan keuangan, bahkan tidak pernah berpikir untuk merencanakan kondisi keuangan, apalagi di masa mendatang.


Perencanaan keuangan sebenarnya merupakan aktivitas mutlak yang harus dilakukan oleh setiap orang dan inilah yang akan membedakan antara kelompok orang-orang yang selalu terjebak oleh kesulitan likuiditas dan kelompok orang-orang yang bisa menikmati hidupnya. Tulisan ini akan mencoba untuk membahas secara sederhana, bagaimana seseorang harus mulai merencanakan keuangannya.

Mendiagnosa kondisi keuangan
Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam penyusunan rencana keuangan adalah mendiagnosa kondisi keuangan pribadi kita saat ini. Yang perlu diperhatikan dalam mendiagnosa kondisi keuangan adalah besarnya total pendapatan, total pengeluaran, besarnya aset dan kewajiban hutang yang kita miliki.

Secara umum jelas bahwa jumlah total pendapatan tidak boleh melebihi total pengeluaran. Bagi orang yang memiliki pendapatan tetap tiap bulan maka dengan mudah bisa diperkirakan besarnya total pendapatan dalam satu tahun, termasuk pendapatan non rutin seperti tunjangan hari raya dan bonus. Maka pengeluarannya harus diatur tidak melebihi total pendapatan rutin yang dimilikinya.

Pendapatan non rutin tidak boleh dialokasikan untuk menanggung total pengeluaran, tetapi harus dialokasikan untuk tujuan investasi atau memperkuat dana darurat. Sedangkan bagi orang yang memiliki jenis pendapatan variabel (tidak tetap) maka total pengeluarannya tidak boleh melebihi 80% rata-rata pendapatannya.
Pos berikutnya yang perlu dicermati adalah asset. Kita sering sekali keliru mendefinisikan tentang aset dalam kaitannya dengan perencanaan keuangan.

Aset sebenarnya adalah segala sesuatu yang memberikan hasil atau mendukung aktivitas produktif kita. Contoh yang sederhana adalah rumah yang kita tinggali dan kendaraan yang kita pakai bisa digolongkan ke dalam aset karena mendukung aktivitas produktif kita, sedangkan villa, stereo set, gitar akustik, tongkat golf dan kendaraan kedua yang jarang kita pakai, jelas bukan merupakan kategori aset. Tabungan dan investasi adalah salah satu ujud nyata aset yang memberikan imbal hasil.

Utang adalah hal yang jamak dilakukan dan sebenarnya bukan hal yang perlu ditakuti. Utang pada hakikatnya adalah menambah daya beli kita dengan menarik pendapatan kita di masa mendatang ke masa kini.

Yang perlu dicermati dalam hal utang adalah jenis utang dan besarnya kewajiban cicilan yang harus kita tanggung. Kredit rumah dan kendaraan produktif jelas merupakan jenis utang yang wajar dan bisa ditoleransi, tetapi utang kartu kredit adalah jenis hutang yang mutlak harus dihindari. Tingkat bunga utang kartu kredit rata-rata mencapai 35 – 48 persen per tahun dan ini jelas membebani likuditas keuangan kita.

Mengingat besarnya tingkat bunga kartu kredit, maka penggunaan kartu kredit harus diwaspadai sebatas demi kepraktisan dan kenyamanan saja dan bukan untuk meningkatkan daya beli kita dengan cara berutang.

Dalam hal mengelola utang, besarnya total kewajiban pembayaran cicilan utang kita tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Bila kita sudah terjebak pada kondisi kewajiban membayar hutang yang melebihi ambang batas tersebut, maka retrukturisasi utang mutlak harus dilakukan dengan memprioritaskan pada utang-utang yang memiliki bunga tinggi, seperti utang kartu kredit, kredit tanpa agunan dan sejenisnya.

Memiliki Dana Darurat
Langkah kedua dalam penyusunan rencana keuangan adalah memeriksa ketersediaan dana darurat yang kita miliki. Dana darurat adalah dana yang sewaktu-waktu harus tersedia bila muncul pengeluaran yang tidak terduga.

Banyak orang tidak memikirkan ketersediaan dana darurat dalam perencanaan keuangan mereka, sehingga ketika muncul pengeluaran tidak terduga maka yang sering dilakukan adalah menambah kemampuan daya beli dengan menciptakan hutang, dan biasanya jenis utangnya adalah utang dengan tingkat bunga tinggi seperti hutang kartu kredit dan kredit/pinjaman tanpa agunan.

Padahal jelas bahwa utang sebenarnya sama sekali tidak boleh dijadikan andalan untuk menutup pengeluaran tidak terduga ini. Di sinilah pentingnya ketersediaan dana darurat, sehingga kita tidak terjebak lilitan utang berbunga tinggi.

Besarnya dana darurat yang harus dimiliki dalam perencanaan keuangan bervariasi, mulai dari 5 sampai 20 kali total pengeluaran bulanan kita, tergantung dari beban yang kita tanggung. Bila kita masih single maka cukup memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran, sedangkan semakin banyak anggota keluarga kita, maka semakin besar dana darurat yang harus kita siapkan.

Patokan yang sederhana adalah tiap anggota keluarga yang menjadi tanggunan kita harus memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran. Sehingga bila kita sudah menikah dan memiliki 2 anak, maka total besarnya dana darurat yang kita miliki adalah 20 kali total pengeluaran bulanan kita. Dana darurat ini bukan termasuk kategori investasi, tetapi tetap dana darurat ini harus diinvestasikan agar berkembang.

Pilihan jenis investasi untuk dana darurat adalah investasi yang sifatnya likuid dan memiliki tingkat risiko investasi yang relatif kecil. Investasi pada dana darurat bukan untuk tujuan pertumbuhan tetapi lebih pada ketersediaan sewaktu-waktu dan tidak lekang oleh inflasi. Harus disadari bahwa besarnya dana darurat ini harus meningkat sejalan dengan meningkatnya taraf hidup kita.

Membuat Daftar Pengeluaran
Langkah ketiga dalam penyusunan rencana keuangan adalah membuat daftar pengeluaran. Pada tahap ini yang mutlak dilakukan adalah memeriksa jenis pengeluaran yang selama ini kita jalani.

Secara garis besar jenis pengeluaran itu bisa dibagi menjadi empat bagian, yaitu membayar kewajiban hutang, pengeluaran rutin seperti biaya rumah tangga, listrik, telepon, dan lain-lain, investasi dan pengeluaran pribadi.

Seperti sudah dijelaskan pada langkah pertama di atas, besarnya kewajiban membayar utang (cicilan) tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Dan ini harus ditempatkan pada prioritas pertama dari sisi pengeluaran.

Menunda kewajiban pembayaran utang hanya akan menimbulkan peluang terciptanya utang baru di masa depan yang memiliki tingkat bunga lebih tinggi. Prioritas kedua dalam pengeluaran adalah mengelola pengeluaran rutin.

Harus dibedakan secara jelas antara pengeluaran rutin dan pengeluaran pribadi. Pengeluaran rutin adalah jenis pengeluaran yang mutlak harus dilakukan untuk mendukung aktivitas produktif kita, tidak bisa dihemat tanpa menurunkan kualitas hidup dan tidak bisa dihindari, sedangkan pengeluaran pribadi adalah jenis pengeluaran yang harus dikorbankan bila terjadi penurunan pendapatan.

Besarnya pengeluaran rutin harus dijaga pada kisaran 50 persen dari total pendapatan kita. Bila pengeluaran rutin sudah melebihi ambang batas 60 persen dari total pendapatan kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk berinvestasi.

Akibatnya kita akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup di masa yang akan datang. Jadi bila pengeluaran rutin sudah mendekati ambang batas, kita harus bekerja lebih giat lagi agar total pendapatan kita meningkat.

Investasi juga harus menjadi prioritas dalam alokasi “pengeluaran” kita. Investasi ini berguna untuk meningkatkan kualitas hidup kita di masa yang akan datang. Investasi akan menambah aset yang kita miliki dan menjadi sumber pendapatan pasif.

Budaya investasi harus mulai dilakukan sejak dini, seberapa kecilpun pendapatan kita. Besarnya alokasi “pengeluaran” untuk investasi minimal adalah 10 persen dari total pendapatan kita. Agar kondisi ini tercapai, maka alokasi investasi bukan dari sisa pendapatan kita setelah dikurangi dengan pengeluaran, tetapi memang sudah dialokasikan begitu kita menerima pendapatan.

Perlu dipahami bahwa investasi tidak sama dengan menabung, karena menabung hanya memberikan tingkat pertumbuhan asset yang relatif sangat kecil. Semakin muda usia kita semakin besar bobot (persentasi) investasi kita di instrumen-instrumen investasi yang mampu memberikan tingkat pengembalian yang tinggi untuk mendukung masa depan keuangan kita.

Harus disadari bahwa investasi yang memberikan tingkat imbal hasil tinggi selalu memiliki tingkat risiko yang tinggi dan tingkat resiko tersebut harus tetap sesuai dengan karakteristik toleransi risiko yang kita miliki. Semakin mapan kondisi ekonomi kita, maka alokasi aset dalam bentuk investasi harus semakin besar, sampai pada gilirannya kita bisa mencapai kebebasan finansial bila hasil yang kita terima dari kerja asset investasi kita sudah melebihi atau paling tidak mendekati hasil kerja produktif kita.

Pengeluaran pribadi adalah satu-satunya jenis pengeluaran yang boleh dan harus dikorbankan ketika terjadi kenaikan persentasi pengeluaran di ketiga pos pengeluaran yang lainnya. Penundaan dan pengurangan pada pos pengeluaran pribadi tidak akan mengurangi kualitas hidup kita dan tidak membahayakan kondisi keuangan kita di masa yang akan datang.

Hal ini jelas berbeda apabila kita mengurangi alokasi pengeluaran kita pada ketiga pos prioritas pengeluaran yang pertama. Salah satu cara untuk mengendalikan pengeluaran pribadi adalah dengan membuka akun khusus di bank yang digunakan untuk mendukung pengeluaran pribadi ini dan akun ini hanya berisi sisa dari pendapatan kita bulan sebelumnya setelah dikurangi dengan total pengeluaran kita di ketiga pos pengeluaran prioritas yang tidak boleh diganggu gugat.

Akun khusus inilah yang digunakan mendanai pengeluaran pribadi agar tidak menggerogoti ketiga pos pengeluaran prioritas. Dengan adanya akun khusus ini maka kita juga tidak perlu repot-repot untuk menghitung besarnya alokasi pengeluaran pribadi yang boleh dilakukan.

Setelah kita membenahi kondisi keuangan kita maka kita harus memasuki langkah keempat, yaitu merencanakan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang kita. Dalam menentukan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang harus jelas tergambar tujuan keuangan yang ingin dicapai dan kurun waktu untuk mencapainya.

Target tujuan tentu saja harus realistis dan disesuaikan dengan kondisi kita. Target jangka panjang kemudian dipecah-pecah menjadi target-target jangka pendek dan strategi mencapai tujuan tersebut.

Salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan pencapaian tujuan keuangan adalah komitmen dan ketertiban kita mematuhi strategi yang sudah ditentukan. Perencana keuangan profesional dari dunia perbankan bisa dilibatkan untuk menata tujuan keuangan kita.